Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta Di Malam 1 Suro
Bisa dibilang upacara adat yang satu ini
adalah upacara adat terbesar dan paling meriah yang digelar oleh Keraton
Kasunanan Surakarta dalam satu tahun. Selain banyaknya peserta yang
terlibat dalam upacara yang berupa kirab pusaka ini, ribuan warga juga
selalu memadati jalanan, rute kurang lebih 5 km, yang dilalui peserta
kirab.
Tradisi Keraton Surakarta pada malam 1 Suro
ini sudah digelar sejak ratusan tahun. Dan selama itu pula, keluarga
keraton, abdi dalem, serta ribuan peserta kirab lainnya, terakhir
tercatat 7.000 peserta, mengirab pusaka-pusaka koleksi keraton dengan
kerbau albino keturunan Kyai Slamet memimpin di depan sebagai pembuka
jalan.
Pada saat rombongan ribuan peserta
melakukan kirab mengelilingi tembok luar keraton ribuan warga dari
berbagai daerah selalu berjejalan di sepanjang rute. Kemacetan dan
konsentrasi penonton ada hampir di sepanjang rute yang ditempuh.
Kebanyakan mereka yang menonton tidak
hanya datang dari dalam kota saja. Jika ingin melihat keunikan akan
tradisi kirab pusaka ini, anda bahkan sudah dapat melihatnya sejak sore
hari. Terutama di jalan-jalan atau akses dari luar kota seperti
Karanganyar (Timur), Sragen (Utara), Klaten (Barat), atau Sukoharjo
(Selatan).
Pada jalan-jalan yang menghubungkan Kota
Solo dengan daerah-daerah diperbatasan itu, sejak sore anda dapat
menemukan warga pejalan kaki yang berjalan mengarah ke Kota Solo. Jumlah
pejalan kaki itu akan semakin bertambah ketika memasuki jam 7 hingga
jam 10 malam. Siapa para pejalan kaki itu?
Mereka adalah warga dari luar daerah Solo yang ingin menyaksikan Kirab Pusaka Keraton Surakarta.
Mereka juga adalah warga yang masih merasakan pengaruh besar kuasa yang
dimiliki Raja dan Keraton Surakarta. Mereka berjalan kaki dari daerah
asal mereka menuju Kota Solo hanya untuk menyaksikan kirab dan juga
mencari berkah. Dan di saat itu pula sebagaian dari mereka juga
menjalankan tapa mbisu (berdiam diri).
Prosesi kirab pusaka Keraton Surakarta
Prosesi Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta
dimulai dari dalam kompleks keraton. Seluruh persiapan dilakukan di
dalam kompleks keraton, sementara kerbau albino keturunan Kyai Slamet
yang menjadi koleksi keraton dipersiapkan di depan Kori Kamandungan dan
Bale Roto.
Tepat pada tengah malam prosesi kirab pusaka pun dimulai dengan kerbau albino sebagai cucuk lampah
atau pembuka jalan. Sedangkan jumlah pusaka yang ikut dikirab dalam
penyelenggaraan terakhir berjumlah sembilan buah dan semuanya terbungkus
dalam kain berwarna gelap.
Ribuan peserta rombongan Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta
akan berjalan menyusuri rute di luar tembok keraton dengan jarak kurang
lebih 5 km dari dalam kompleks keraton mereka akan menuju Bundaran
Gladag – Jalan Kusmanto – Jalan Kapten Mulyadi – Jalan Veteran – Jalan
Yos Sudarso – Slamet Riyadi – Jalan May. Sunaryo dan kemudian kembali ke
dalam kompleks keraton.
Tapa mbisu tidak hanya
dijalankan oleh warga yang memegang teguh tradisi Jawa yang hadir
menyaksikan kirab saja. Ribuan peserta kirab sendiri juga menjalankan
hal yang sama. Karena itu, selama prosesi kirab berlangsung suasana
khitmad dan sakral akan sangat terasa di sepanjang rute. Apalagi
ditambah dengan aroma kemenyan yang dibawa beriringan dengan pusaka yang
dikirab.
Keunikan lain yang ada selama kirab
adalah kepercayaan sebagian warga yang hadir dengan tuah yang ada dalam
kerbau-kerbau albino keraton. Sudah terkenal sejak dahulu jika selama
prosesi kirab berlangsung dan pada saat itu kerbau membuang kotoran
dalam perjalananya, maka kotoran kerbau itu akan jadi rebutan sebagian
warga yang menganggapnya bertuah.
Memang banyak hal-hal unik yang bisa
dilihat dalam setiap penyelenggaraan kirab pusaka di malam 1 Suro ini.
Hal itu belum termasuk saat rombongan masih berada dalam kompleks
keraton dan banyak pengunjung yang berebut janur yang digunakan sebagai
hiasan di Bale Roto. Hal-hal yang tidak dapat dibobot atau diukur ini
selalu menjadi pemandangan tersendiri yang hanya bisa ditemui saat
keraton menggelar hajatan besarnya.
Malam 1 Suro adalah waktu untuk menggelar tradisi Keraton Surakarta ini.
Hal yang perlu diperhatikan saat menonton kirab pusaka
Jika anda ingin menyaksikan prosesi
persiapan dan kirab dari depan Kori Kamandungan Utara atau Bale Roto,
lebih baik anda datang jauh sebelum tengah malam. Pengunjung yang masuk
dalam area ini akan sangat dibatasi dan saat suasana sudah ramai, hanya
mereka yang berkepentingan saja yang kemudian diperbolehkan masuk.
Jika anda ingin mengabadikan prosesi ini dengan kamera jenis apapun, sebaiknya anda TIDAK menggunakan flash. Pengamanan selama prosesi kirab berlangsung sangatlah tegas. Lampu atau kilat flash dapat menakuti atau membuat stres kerbau-kerbau yang memimpin kirab. Karena itu tidak jarang mereka yang menggunakan flash saat mengambil gambar akan langsung ditegur, kadang dengan teguran yang “kelewat” keras, oleh pihak keamanan.
Hal seperti ini sempat terjadi seperti pada penyelenggaraan kirab tahun 2012.
Saat itu kerbau-kerbau albino keraton berlarian kembali menuju keraton
saat rombongan baru saja melewati Bundaran Gladag. Banyaknya warga yang
mengambil gambar dengan bantuan flash dan suara bising kendaraan memicu ketakutan kerbau-kerbau itu.

sumber : http://chic-id.com/kirab-pusaka-keraton-kasunanan-surakarta-di-malam-1-suro/
sumber : http://chic-id.com/kirab-pusaka-keraton-kasunanan-surakarta-di-malam-1-suro/
Komentar
Posting Komentar