Tradisi Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta
Tradisi Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta
Sekaten adalah salah satu
tradisi Keraton Surakarta yang paling dikenal dan ditunggu kehadirannya
setiap tahun. Tradisi yang telah digelar sejak era raja-raja terdahulu
sejatinya adalah sebuah upacara peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW
yang dianggap sebagai tuntunan bagi umat manusia.
Nama tradisi ini berasal dari kata dalam Bahasa Arab, Syahadatain, (dua kalimat Syahadat,
yakni persaksian umat Islam bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad adalah Utusan Allah), rutin diselenggarakan oleh pihak Keraton
menjelang hari perayaan lahirnya Sang Penuntun. Yaitu menjelang Maulid Nabi atau menjelang tanggal 12 bulan Rabiul Awal (Hijrah) atau 12 bulan Mulud (Jawa).
Mulainya tradisi Sekaten ditandai dengan dikeluarkannya dua gamelan pusaka Keraton yaitu, gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari. Kedua gamelan pusaka Keraton ini nantinya akan ditata di Bangsal Pagongan, Masjid Agung Surakarta, untuk kemudian dibunyikan selama satu minggu penuh. Terhitung dari tanggal 5 bulan Mulud hingga 11 bulan Mulud.
Dalam tradisi Sekaten Keraton
Surakarta ini masing-masing perangkat gamelan pusaka akan melantunkan
dua gending berbeda secara bergantian. Pertama gending Rembu dimainkan pada Kyai Guntur Madu sementara Kyai Guntur Sari memainkan gending Rangkung.
Setelah satu seminggu dimainkannya dua gending tadi. Seluruh kegiatan dalam perayaan ini akan ditutup dengan Grebeg Mulud tepat di hari perayaan Maulid Nabi di Masjid Agung Surakarta. Grebeg Mulud
inilah yang disebut sebagai upacara adat yang paling besar dan paling
banyak menyedot perhatian masyarakat luas jika dibandingkan dengan Grebeg Syawal atau Grebeg Besar.
Selain puncak acara Grebeg dan tabuh gamelan pusaka. Salah satu tontonan yang paling diminati adalah pasar malam Sekaten.
Pasar malam sendiri digelar di Alun-Alun Utara. Khusus untuk pasar
malam biasanya sudah buka jauh hari sebelum Sekaten sendiri digelar di
Masjid Agung Surakarta. Pasar malam yang banyak menyuguhkan tontonan,
hiburan, dan jajanan juga biasa tutup paling akhir meskipun seluruh
kegiatan utama sudah selesai digelar.
Komentar
Posting Komentar